Kiat Ampuh Menjadi Guru Profesional Plus Plus

Semua kita pasti ingin menjadi guru yang profesional, yang ditambah lagi dengan kreatifitas yang tinggi agar dapat menjadi guru teladan dan plus plus bagi setiap siswa kita.. nah berikut kisah guru yang patut kita contoh berdasarkan kutipan dari siswa yang pengalaman siswa yang bersangkutan.

Guru Supel Plus Ramah 

Pak Ngadmin adalah guru di Sekolahku, sebuah sekolah SD di kota Bandung, sepintas ia sama sekali tidak menarik. Pakaian yang dikenakannya terkesan sederhana alias tak bermerk tapi rapi dan bersih. Sepatunya, kadang disemir kadang tidak. Rambutnya selalu tercukur rapi. Tubuhnya sedikit pendek tapi langsing. Dan wajahnya, ehm…tidak tampan tapi juga nggak jelek. Biasa aja. Jadi wajar kalau pertama ketemu tak ada kesan yang membekas. Jadi pendapat bahwa kesan pertama cukup menentukan, belakangan baru ku tahu ternyata tidak kena untuk sosok Pak Ngadmin. 
Saat kutahu bahwa wali kelasku di kelas lima adalah Pak Ngadmin, jujur saja aku merasa sedikit kecewa. Wah, orangnya nggak asyik! Pikirku. Tapi, yaa…apa boleh buat. Dengan lesu aku duduki bangku di sudut kelas seraya merebahkan daguku di atas meja. Beberapa temanku terlihat asyik bercanda, yang lain tertawa-tawa senang karena sebagian besar mereka berada dalam kelas yang sama saat kelas empat. Sementara aku, bukannya aku tak kenal mereka, tapi sahabat-sahabatku tidak lagi sekelas denganku. Mereka terpencar di kelas yang lain. 
“Halo anak-anak, selamat pagi semuanya,” suara yang ringan dan ramah tiba-tiba menyeruak di tengah kebisingan kelas. Sesaat aku tersentak, kuangkat kepalaku lalu kurebahkan lagi. Pak Ngadmin melangkah ke depan kelas dengan tegap dan pasti. Senyum tulus tampak menghias wajahnya. Berdasarkan tulisan di kertas yang ia pegang, Pak Ngadmin mulai memanggil nama murid-muridnya satu persatu dan menanyakan nama panggilan masing-masing. Ketika giliran namaku dipanggil, aku mengangkat tanganku dan hanya mengangkat daguku beberapa sentimeter dari meja. Dahi Pak Ngadmin tampak berkerut memandangiku. 
“Kamu sakit?” tanyanya ramah. Ia melangkah tenang ke arahku. Tangannya yang bekulit sawo matang meraba dahi dan leherku. 
“Nggak panas kok. Kenapa, nak, kok lesu? Ayo, coba duduknya tegak dan perlihatkan senyummu,” ajaknya lembut. Kuikuti saran Pak Ngadmin walaupun rasanya sulit mengukir senyum dengan bibir yang kaku. 
“Nah….gitu dong! Kalau senyum kamu kelihatan lebih cakep, lho.” Pak Ngadmin berkomentar sambil mengusap rambutku. Kulihat beberapa temanku tertawa geli mendengar ucapan Pak Ngadmin. Tanpa kuduga, sikap Pak Ngadmin tadi menghapus sedikit rasa kecewaku. Semangat mulai mewarnai hatiku di tengah gumpalan asap kelabu yang memenuhi perasaanku. Hehe…baru sekarang ada yang bilang aku cakep. Kukejap-kejapkan mataku membuang kantuk. 

Guru Tegas Plus Berwibawa 

Hari pertama sekolah itu, aku hanya mencatat jadwal pelajaran dan mendengarkan beberapa peraturan yang diberikan Pak Ngadmin. Rasanya, semua peraturan yang disampaikan cukup klise dengan kelas-kelas sebelumnya. Ah, bosan! Keluhku. Semangatku pagi itu sepertinya hampir terbang. Tapi…belum lagi daguku menyentuh meja, tiba-tiba Pak Ngadmin memanggilku. 
“Komar…” Suaranya cukup keras tapi tetap tenang. Aku tersentak. Sorot matanya tajam menatapku. Tak ada kemarahan tapi sanggup membuatku ciut. 
“Pergilah ke toilet dan basuh mukamu, agar kamu lebih segar dan tidak lesu,” perintahnya datar. Tak ada kekesalan atau kemarahan yang tersirat baik dalam suara maupun wajahnya, tapi nada suaranya tampak sungguh-sungguh dan mengandung magnet yang membuatku merasa tak benyali untuk menentangnya. Instingku mengatakan bahwa Pak Ngadmin adalah guru yang tidak bisa dipermainkan murid, seperti guru-guru lainnya. Tanpa berpikir dua kali, aku segera melakukan perintahnya dan cepat-cepat aku kembali ke kelas tanpa pedulikan wajahku yang masih basah. 
“Sudah? Nah, kelihatan lebih segar sekarang,” pujinya sambil tersenyum. Sekarang aku merasa semakin tertarik mendengarkan penjelasan dari setiap peraturan yang akan beliau terapkan. Rasa lesuku menguap pergi, entah kemana. Setelah kusimak, ternyata ada banyak perbedaan dengan peraturan yang kuterima di kelas-kelas sebelumnya. Aku jadi penasaran… 
“Anak-anak…,” seru Pak Ngadmin lantang. Semua mata memandang kearahnya tanpa terkecuali. ” Di kelas empat ini, Bapak meminta kalian untuk tidak memegang alat tulis apapun jika Bapak sedang menerangkan. Semuanya harus belajar untuk menyimak dan mendengarkan setiap pelajaran yang Bapak jelaskan di depan. Apa kalian mengerti..?”suaranya begitu keras dan jelas. Sejenak Pak Ngadmin memandang setiap anak yang duduk mematung dengan wajah tegang. 
“Mengerti…atau tidaaakk…..!” Anak-anak tersentak. Volume suara Pak Ngadmin terdengar lebih keras tapi tak ada nada marah di dalamnya. Dan seperti sebuah paduan suara, semua murid menjawab serempak,” Mengertiiiii……..!” 
Pak Ngadmin memperlihatkan rangkaian giginya yang rapih dan bersih. Dia tertawa lepas sejenak. 
“Haha…anak-anak, kalian tidak usah tegang begitu. Jangan takut. Selama ini Bapak masih makan nasi kok, bukan makan orang…” canda Pak Ngadmin dengan ekspresi yang lucu. 
Wajah-wajah kecil yang ketakutan tadi kini tampak tenang dan kembali ceria. Semua tertawa menimpali gurauan Pak Ngadmin. 
“Ya…Bapak paling tidak suka kalau sedang menerangkan suatu pelajaran di kelas, lalu ada yang asyik menulis, menggambar atau bermain. Anak seperti itu, seringkali tidak dapat menyimak dengan baik. Tapi, bukan berarti kalian tidak boleh bicara. Kalian boleh bicara…asal berkaitan dengan topik pelajaran yang sedang kita bahas. Bahkan Bapak paling senang jika kalian mau bertanya. Jangan malu! Kalau kalian bertanya, itu artinya kalian menyimak. Jangan takut untuk bertanya kalau ada pelajaran yang belum dimengerti. Paham..?” Semua mengangguk. 
Kesan pertama mulai sedikit tebentuk di hatiku. Kata-katanya jelas dan tegas. Suaranya lantang. Matanya menatap langsung ke mata murid-muridnya. Tidak tampak ragu. Senyumnya tampak tulus, tidak dipaksakan. Pak Ngadmin bisa menguasai kelas dan mengendalikannya! 
Sekalipun dikenal sebagai guru yang sabar dan suka bergurau, bukan berarti Pak Ngadmin tidak bisa marah. Beliau bisa marah bahkan berteriak dengan suara sangat keras. Dan biasanya, kalau sudah begitu, tak ada satupun murid yang berani menentang. Tetapi kemarahannya sangat cepat reda, tak sampai berlarut-larut. Diakhir pelajaran, beliau selalu menjelaskan alasan dari kemarahannya, sehingga kami tahu kesalahan yang telah kami lakukan dan berusaha untuk tidak mengulanginya. 
Satu hal yang kupelajari dari Pak Ngadmin adalah beliau hanya berteriak keras bila ada muridnya yang tidak dapat menguasai emosi dan menangis sambil berteriak-teriak sehingga cukup sulit dikendalikan. Seperti temanku Icang. Icang adalah temanku yang sangat mudah terpancing emosinya. Hal sepele saja bisa membuatnya mengamuk, menangis meraung-raung dengan duduk di lantai, bahkan melemparkan benda apapun yang ada di dekatnya, termasuk kursi di kelas. 
Aku dan teman-temanku hanya memandangi Icang dari jauh dengan perasaan bingung bercampur takut. Tak lama, kulihat Pak Ngadmin datang tergesa diikuti beberapa temanku yang mengadukan hal Icang. Awalnya, Pak Ngadmin mencoba menegur dan bertanya pada Icang tanpa nada tinggi. Tetapi ketika dilihatnya Icang tak mau mendengar bahkan semakin menjadi dan bermaksud memukul Budi dengan tasnya, tiba-tiba Pak Ngadmin bersuara menggelegar memanggil nama Icang. Tangis Icang langsung berhenti. Matanya menatap terkejut ke arah asal suara. Begitu juga aku dan teman-temanku. Hening. Sepi. Pak Ngadmin menatap tajam dan lekat ke arah Icang. Tangisnya yang tadi keras kini berganti dengan isakan kecil. Kurasa tak ada satupun yang mengira, bahwa Pak Ngadmin bisa marah seperti itu. 
Perlahan Pak Ngadmin mendekat ke arah Icang, lalu menuntunnya dengan lembut keluar dari kerumunan. Dengan tenang, Pak Ngadmin menyuruh semua murid duduk di tempatnya masing-masing dan memberi tugas untuk dikerjakan. Sementara itu, Pak Ngadmin mengajak Icang keluar dari kelas untuk berbicara dengannya. Kurang lebih satu jam kemudian, Icang bersama Pak Ngadmin masuk kembali ke dalam kelas. Entah apa yang dibicarakan, tapi kini Icang tampak lebih tenang. 
Semua mata tertuju pada Icang. Kami ingin tahu, apa yang terjadi. Mengapa Icang bisa tenang seperti itu? Seringkali, dengan kebiasaan buruk Icang tadi, tak ada yang bisa membuatnya berhenti menangis meraung-raung, apalagi membuatnya tenang. Bahkan bisa dipastikan, Icang akan menolak untuk masuk kembali ke kelas serta memilih duduk di teras kelas atau meja piket guru sampai bel tanda pulang berbunyi. Tapi yang kali ini, kok aneh….? 
Pikiran buruk mulai melintas di benakku. Apa yang dilakukan Pak Ngadmin terhadap Icang? Apakah beliau memukulnya, sehingga Icang tidak berani melanjutkan tangisnya? Hii…, seram! Segera aku menulis di bagian belakang buku tulisku dengan tulisan besar-besar: 
Kesan kedua: jangan bangunkan harimau tidur!….. 
Saat bel tanda istirahat kedua berbunyi, segera aku melesat mendekati Icang. Icang tertawa melihatku yang hampir terpeleset. 
“Cang, kamu nggak apa-apa? Tadi kamu diapain sama Pak Ngadmin?” tanyaku tak sabar. Rupanya teman-teman yang lain berpikiran sama denganku. Dalam sekejap saja mereka sudah mengerumuni kami. 
“Diapain..? Nggak kok, nggak diapa-apain…,” sahut Icang bingung. 
“Nggak dicubit, dipukul atau…diancam, gitu?” tanya Adi menimpali. Icang menggeleng. 
Semua saling menatap tak percaya. 
“Tenang…aku baik-baik aja. Tadi aku cuma ngobrol sama Pak Ngadmin.” Icang menjelaskan dengan tenang seraya mencoba menyeruak keluar dari lingkaran kami. 
“Haaa……..?” Tanpa sadar, hanya satu suara itu yang keluar dari mulutku dan teman-teman. Kulihat Icang mendekati Budi, yang hampir jadi sasaran tasnya. Semua tegang… 
“Maaf-in aku ya, Bud..,” ujar Icang tenang seraya mengulurkan tangannya menjabat tangan Budi. 
“Haaa…….?!” Semua makin heran dan bingung. Serempak mata kami terarah kepada Pak Ngadmin, yang sejak tadi berdiri mengawasi di depan kelas. Beliau menatap Icang dengan lembut seraya mengacungkan jempolnya. Aku penasaran, rumus apa yang dipakai Pak Ngadmin untuk merubah perilaku Icang? 
Selama di kelas lima aku menghitung, perilaku Icang mengamuk terjadi hanya dua kali. Padahal di kelas-kelas sebelumnya, Icang selalu mengamuk hampir tiap bulan. Kini, Icang tidak lagi mengalami masalah dalam bersosialisasi. Hari-harinya diisi dengan ceria dan tawa. Icang yang kulihat sekarang sangat berbeda dengan Icang yang dulu. Segera aku menulis lagi di halaman berikutnya tulisanku yang dulu: 
Harimau tidur, perlu sekali-kali dibangunkan……:) 

Guru Kreatif Plus Inovatif 

Seminggu pertama belajar dalam asuhan Pak Ngadmin, mampu membuatku merasa lebih bersemangat untuk bekajar. Pak Ngadmin selalu berhasil membawa suasana ceria di dalam kelas, apapun pelajarannya. Terkadang, di tengah-tengah pelajaran beliau menyisipkan cerita yang menarik bahkan terkadang lucu, namun sarat dengan pesan moral. 
Pagi ini, usai upacara rutin hari Senin, Pak Ngadmin masuk sambil membawa gulungan karton berwarna orange. Tak lama kemudian, beliau menempelkannya di dinding dekat mejanya. Semua siswa mengamati. Tak ada gambar apapun pada karton itu, kecuali tulisan besar yang berbunyi: “POJOK HUKUMAN’. Semua murid meringis. Kami tahu sekarang, minggu lalu Pak Ngadmin sudah menjelaskan tentang salah satu peraturan mengenai pojok hukuman. 
Selesai menempel karton tadi, segera Pak Ngadmin memberi perintah untuk mengeluarkan buku pelajaran yang akan dibahas. Semua terlihat tertib dan tenang merogoh buku di dalam tas masing-masing. Tiba-tiba, tampak Sanip melangkah dengan ragu ke arah Pak Ngadmin. Tangannya yang saling meremas menunjukkan kecemasan. Sanip terlihat menggumankan sesuatu. 
“Ya. Suaramu kurang keras, nak. Ada apa?” sahut Pak Ngadmin. Semua mata tertuju ke arah Sanip. Sekarang suaranya terdengar lebih keras tapi sedikit bergetar. Pak Ngadmin tersenyum seraya menanyakan alasan Sanip tidak membawa buku pelajaran. 
“Lain kali jangan ketinggalan, ya,” ujar Pak Ngadmin tenang. Murid-murid tertawa geli ketika melihat Pak Ngadmin menggambar sebuah wajah murung berbentuk lingkaran, dan pada dahinya ditulis SANIP, kemudian membubuhkan sebuah jerawat pada wajah itu. Semakin sering seorang murid ketinggalan buku pelajaran atau lupa mengerjakan tugas, maka semakin banyak pula jerawat pada gambar wajah dengan nama siswa tersebut. Sudah barang tentu, hal ini memberikan efek jera para siswa. Tak seorangpun mau dikenali sebagai pemalas atau pelupa melalui gambar di pojok hukuman. Apa jadinya, bila orang tua mereka mengetahui melalui pojok hukuman itu, bahwa ternyata anaknya banyak melalaikan tugas. Wah, bisa BAHAYA! 
Hal yang menarik, Pak Ngadmin bukan hanya menyediakan sebuah karton bertulis POJOK HUKUMAN, tapi di bagian dinding yang lain ada sebuah karton yang berisi tulisan nama-nama siswa dengan ruang kosong yang cukup untuk membubuhkan puluhan cap ukuran kecil di dalamnya. Karton itu berjudul “PRESTASIKU”. Setiap siswa yang mendapat nilai 8 - 10 akan mendapat hadiah cap pada ruang kosong yang berisi namanya. Setiap nilai mempunyai bentuk cap yang berbeda. Aku selalu mengincar cap ‘Bintang’ yang menjadi kesukaanku, begitu pula halnya dengan teman-temanku. Karena semakin banyak bintang pada namaku, hal itu 
menunjukkan prestasi yang kubuat. Betapa bangganya orang tuaku bila melihat cap bintang bertaburan di ruang namaku. 
Tak berhenti sampai di situ. Setiap bulan, Pak Ngadmin selalu memberikan sertifikat yang dirancangnya sendiri, sebagai penghargaan atas prestasi murid-muridnya dalam setiap masa pelajaran aktif 30 hari. Program sertifikat ini bernama KID’S THIS MONTH. Sedangkan untuk siswa yang menyenangkan dalam bergaul dan suka menolong, akan mendapat sertifikat THE FAVOURITE KID’S. Juga untuk siswa yang menunjukkan peningkatan pesat dalam kemajuan belajarnya meskipun nilainya tidak sepuluh, akan mendapat sertifikat Spesial. Semua siswa berlomba mendapatkan sertifikat ini, apalagi foto mereka akan terpampang di kelas sampai pemberian sertifikat berikutnya. 
Aku dan semua teman-temanku di kelas tahu bahwa Adam adalah satu-satunya murid di kelas kami yang sangat membenci pelajaran matematika. Bahkan saking bencinya dia pada pelajaran ini, di setiap buku dan dinding di kamarnya, ada tanda tulisannya yang berbunyi; ADAM BENCI MATEMATIKA!! 
Pak Ngadmin hanya mengangkat alisnya dengan wajah berhias senyum seraya menatap Adam yang tertunduk kaku, ketika beliau tahu kebencian itu. Dipanggilmya Adam mendekat. Kulihat Pak Ngadmin bicara berbisik pada temanku itu, sambil sesekali diiringi anggukkan kepala Adam. Entah apa yang disampaikan guruku, tapi kulihat wajahnya begitu tenang. Tak lama kemuadian, Adam kembali duduk di bangkunya. Dia tidak terlihat sedih tapi justru seperti baru terlepas dari beban yang begitu berat. 
Aku penasaran. Apa sebenarnya yang dikatakan Pak Ngadmin padanya?. Saat istirahat segera kudekati Adam. 
“Dam, Pak Ngadmin bilang apa, sih..?” tanyaku penasaran. Kutarik Adam ke sudut kelas. Adam hanya tersenyum menggeleng. Aku desak dia. Akhirnya temanku itu menyerah. 
“Pak Ngadmin bilang, beliau juga dulu seperti aku, benci matematika. Menurut beliau, tidak apa-apa aku benci matematika. Itu hal biasa.” Aku bingung….lalu katanya lagi, 
“Dam, Bapak tahu sebenarnya kamu anak yang cerdas. Hasil test IQ-mu menunjukkan itu…Apa kamu mau dikalahkan oleh rangkaian huruf dari M-A-T-E-M-A-T-I-K-A..?” 
“Terus……terus…?” desakku lagi. Aku semakin penasaran. 
“Pak Ngadmin bilang, justru kalau aku benci matematika, aku harus bisa menaklukkannya dengan mendapat nilai terbaik. Kalau nilaiku jelek, berarti aku membiarkan diriku dikalahkan oleh si matematika ini tanpa perlawanan.” Aku makin bengong…. 
Bel tanda usai istirahat menghentikan segala kegiatan di luar kelas, tapi aku masih tidak mengerti maksud kata-kata Pak Ngadmin pada Adam. 
“Anak-anak, Bapak ingin memperkenalkan kalian pada seorang ahli matematika yang sangat hebat. Beliau memang tidak ada disini. Tapi Bapak akan ceritakan siapa orang yang Bapak maksud. Tokoh ini bernama Ni Ing Han. Dia seorang warga Negara Indonesia. Apa kehebatannya? Ni Ing Han, awalnya adalah seorang pria yang tidak mempunyai kekurangan fisik. Tapi suatu pagi, dia mengalami kebutaan. Dari hasil pemeriksaan, dokter yang memeriksanya mengatakan bahwa dia mengalami kebutaan secara permanen. Tentu saja ini merupakan pukulan yang berat untuk seorang Ni Ing Han. Tapi dia tidak membiarkan dirinya terpuruk terlalu lama. Singkat cerita, dalam kebutaan yang dialaminya itu, Ni Ing Han kini menjadi seorang guru matematika yang sangat handal. Bahkan, menurut kabar burung, dia bisa membuat murid yang semula sangat kurang dalam matematika menjadi murid yang pandai mengerjakan soal matematika. Artinya, inti dari cerita ini adalah apapun tantangan yang kalian hadapi, percayalah Tuhan sudah menyediakan jalan keluarnya. Tinggal kita yang harus mau berusaha dan tidak putus asa.” Aku tertegun. Ingin rasanya aku bertemu tokoh itu. 
Hari-hari selanjutnya, kulihat Adam selalu menggunakan waktu istirahat pertamanya untuk menanyakan soal matematika pada Pak Ngadmin. Perlahan, dia mulai dapat menjawab dengan tepat setiap soal matematika yang diberikan Pak Ngadmin. Dia juga tidak lagi malu untuk mengangkat jarinya, bila ada pelajaran yang belum ia mengerti. 
Aku dan teman-temanku terpana tak percaya, ketika kami tahu nilai matematika Adam saat ulangan tengah semester adalah delapan setengah. Secara spontan kami semua berteriak dan bertepuk tangan. Adam tampak tersipu tapi rasa bahagia di wajahnya tak dapat ia sembunyikan. Sementara, Pak Ngadmin juga tak ketinggalan ikut bertepuk tangan sambil mengangguk-angguk dengan senyum khasnya. Kutatap Adam dengan kagum. Yang kutahu, selama ini nilai matematika yang diperolehnya berkisar pada angka lima ke bawah. 
Adam terlihat begitu senang, ketika di akhir bulan, dia juga mendapat Sertifikat Istimewa, atas upaya dan keberhasilannya meraih nilai baik dalam matematika. Sekarang, dia selalu bersemangat mengerjakan soal-soal matematika. 

Guru Hati Plus Surat 

Aku merasa begitu terharu dan terperanjat ketika usai pelajaran terakhir, Pak Ngadmin memanggil murid-muridnya satu persatu serta memberikan sepucuk surat bertuliskan nama masing-masing muridnya. Semua menerimanya dengan penuh antusias, tak terkecuali aku. Tanpa menunggu aba-aba, setiap siswa yang telah mendapatkan surat segera membacanya, meskipun Pak Ngadmin meminta kami untuk membaca di rumah saja. Tapi rasa gembira membuat kami tak sabar untuk segera mengetahui isi surat itu. 

Ternyata surat itu berisi tulisan tangan Pak Ngadmin, dan bukan ketikkan atau hasil print out. Setiap surat berisi rangkaian kata-kata yang berbeda, disesuaikan dengan karakter setiap siswa. Tiga puluh empat pucuk surat untuk tiga puluh empat siswa dengan tulisan yang rapi dengan kata-kata “tepat sasaran”, yang dibutuhkan siswa sebagai penggugah semangat untuk belajar. Kutatap Pak Ngadmin dengan rasa yang sulit kuungkapkan, namun tekadku terasa begitu besar untuk membuat beliau bangga padaku. Yang lebih menyenangkan, kami menerima surat setiap kali akan menghadapi ulangan tengah semester atau ulangan semester. 

Isi surat itu begitu menyentuh dan mengena di hatiku. Aku menyadari kelalaian yang sering kulakukan, dan aku berjanji untuk memperbaikinya. Tak ada satupun siswa yang terluput dari perhatian Pak Ngadmin. Ia selalu mengetahui saat kami gelisah, sedih, tak nyaman, tak konsentrasi atau bahkan saat kami mulai merasa sakit. Apapun persoalan yang kami hadapi, baik di kelas maupun di rumah, bila itu mempengaruhi kemajuan belajar kami, beliau tak segan berusaha membantu. Menurut Pak Ngadmin, sorot mata seseorang menggambarkan keadaan orang tersebut pada saat itu. 
Kutempel surat ‘cinta’ Pak Ngadmin di lemari kulkas. Kalau aku mau belajar, kuambil surat itu dan kuletakkan di atas meja belajarku di tempat yang mudah terbaca olehku. Ajaib! Sepertinya rasa kantuk enggan mendatangiku saat aku sedang belajar, karena aku ingin Pak Ngadmin merasa bangga padaku. Surat itu membuatku merasa bahwa aku adalah salah satu muridnya yang sangat berarti untuk beliau. Itu sebabnya, aku tak ingin mengecewakan guruku yang satu ini. 
Surat dari Pak Ngadmin tak akan kubuang. Aku akan terus menyimpannya sampai kapanpun. Disaat semangatku merosot, surat itu mampu membangun keinginanku untuk kembali giat. 

Guru Inspiratif Plus Imaginatif 

Suatu hari, saat pelajaran Bahasa Indonesia, Pak Ngadmin menyuruhku membacakan sebuah cerita dalam lembar kerja siswa. Pak Ngadmin tersenyum-senyum mendengar aku membaca. Lalu beliau mencoba mengulang membaca cerita tadi sesuai dengan ekspresi yang digambarkan penulis pada isi cerita tersebut. 
Pak Ngadmin menunjukkan contoh-contoh ekspresi sedih, menangis, atau ekspresi gembira, marah, lesu, dan sebagainya. Intinya, ekspresi-ekspresi itu selalu muncul sesuai dengan isi karakter setiap tokoh dalam cerita. Beliau membuatku menyadari, bahwa ternyata membaca cerita bukanlah hal yang mudah, bila aku harus membacakan cerita itu untuk orang lain. Pak Ngadmin juga mengajarkan kami untuk membaca dengan intonasi yang benar, bukan seperti anak TK, sebagaimana yang selalu kami lakukan selama ini. Untuk itu, agar lebih jelas Pak Ngadmin menugaskan kami untuk mengamati setiap reporter berita di televise, bagaimana sikap dan intonasinya, kemudian kami harus mempraktekkannya di dalam kelas. Ah! Lagi-lagi bukan tugas yang mudah tapi menantang dan menyenangkan. 
Pada kesempatan lain Pak Ngadmin mengajarkan kami untuk berpidato dengan baik dan benar lalu mempraktekkannya di kelas. Juga beliau mengajarkan kami untuk menjadi MC dalam suatu acara, tentu saja di dalam kelas. Kini Bahasa Indonesia bukan lagi pelajaran yang membosankan, tetapi menjadi salah satu pelajaran yang selalu kami tunggu. 
Suatu hari dalam pelajaran IPS, Pak Ngadmin memberi kami tantangan baru. Kami harus mengumpulkan materi mengenai masalah-masalah social dan bekerja dalam kelompok belajar IPS. Masalah social yang akan di bahas adalah: Kemiskinan, Pengangguran, Anak Jalanan, Narkoba, dan Korupsi. Khusus untuk masalah yang terakhir ini, adalah permintaan para murid, meskipun awalnya Pak Ngadmin agak keberatan namun akhirnya beliau setuju. Kami mendapat waktu cukup lama sekitar dua minggu untuk mengumpulkan bahan-bahan sesuai dengan masalah social yang menjadi tugas kelompok belajar kami. Kebetulan, kelompok kami mendapat bagian membahas masalah social tentang Narkoba. 
Sementara mengumpulkan bahan-bahan materi yang diperlukan, di dalam kelas kami belajar untuk menjadi moderator dan penyaji/pemrasaran. Adapun nilai yang akan diberikan mencakup nilai untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, yaitu untuk segi penyampaian makalah dan etika berbicara. Nilai ini untuk perorangan, begitu pula untuk nilai IPS dalam penguasaan materi. Sedangkan nilai kelompok adalah kekompakkan dan ketepatan waktu penyerahan tugas. 
Lebih seru lagi, di akhir semester menjelang kenaikan kelas, kami mendapat tugas untuk mewawancarai beberapa orang disekitar kami, misalnya: tukang bakso, guru private, dan lain-lain. Terlebih dahulu kami belajar tentang etika dalam wawancara termasuk cara kami bersikap, juga mengenai pertanyaan-pertanyaan yang boleh dan tidak boleh kami ajukan, serta membuat sebuah out line karena hasil wawancara ini harus kami susun dalam sebuah laporan seperti makalah, lengkap dengan lampiran foto-foto hasil wawancara kami. 

Agar kami lebih memahami pelaksanaan tugas ini, Pak Ngadmin mencoba simulasi bermain peran. Wah, kegiatan bermain peran ini, benar-benar seru dan menyenangkan! Bermain peran ini banyak membantu kami saat harus terjun ke lapangan. Semula aku ragu akan kemampuanku, tapi lagi-lagi Pak Ngadmin mengingatkan: TAK ADA KATA TIDAK BISA SEBELUM KITA BERUSAHA SUNGGUH-SUNGGUH. Ya, kata-kata ini selalu disampaikan Pak Ngadmin berulang kali. Beliau tidak suka bila ada muridnya yang mudah menyerah. 

Guru Moving in Class Plus Gaul 

Suatu hari Pak Ngadmin mengamati salah seorang muridnya yang hanya bermain sendiri. Ia tidak penah terlihat berkomunikasi, bercanda atau bermain dengan teman-teman di kelasnya. Akhirnya Pak Ngadmin membentuk kelompok belajar yang selalu berganti-ganti kelompoknya sesuai dengan mata pelajaran yang beliau ajarkan. Misalnya, untuk pelajaran Matematika, aku mendapat tempat di kelompok dua, pelajaran IPA di kelompok empat, pelajaran IPS di kelompok satu, pelajaran Bahasa Indonesia di kelompok lima, dan pelajaran PKN di kelompok tiga. Teman kelompokku juga berbeda dalam setiap mata pelajaran itu. Jadi kalau jam pelajaran pertama aku belajar matematika, maka aku berada di kelompok dua. Saat pelajaran berikutnya IPS, maka aku pindah ke kelompok satu. Begitu seterusnya. 
Aku bertanya kepada Pak Ngadmin, alasan beliau untuk selalu meminta kami berpindah saat pergantian mata pelajaran pokok. Ternyata kegiatan berpindah ini meliputi banyak hal. Pertama, membuat siswa tidak mengantuk dan jenuh. Kedua, meng-olahragakan mata dan leher, kecuali siswa yang berkacamata, semua mendapat pengalaman duduk di barisan belakang. Ketiga, melatih siswa untuk teliti terhadap barang-barang miliknya. Keempat, cara ini sangat menolong siswa penyendiri dalam bergaul dan berkomunikasi, karena ia tidak perlu merasa malu dan terasing. Dalam kelompok belajar ini semua harus saling mendukung secara positif sehingga bila ada siswa yang mendapat nilai buruk, tidak ada ejekan atau sikap menertawakan. Bahkan Pak Ngadmin pernah menjelaskan bahwa sesekali perlu mendapat nilai buruk, agar kita jedi lebih tangguh dan tidak meremehkan siapapun. Dampak lain yang kurasakan dari kegiatan berpindah ini adalah aku jadi lebih lincah, enerjik dan bersemangat, karena harus bersaing memperebutkan posisi tempat duduk yang “strategis”. 

Terkadang, Pak Ngadmin membuat sebuah game yang jadi salah satu kegiatan kesukaanku. Game ini berupa kuis antar kelompok. Jadi kami harus cepat bergerak untuk masuk dalam kelompok kami, karena jika terlambat maka kami tidak dapat masuk kelompok manapun. Misalnya, aku sedang berada dalam kelompok IPA, usai pertanyaan tentang IPA Pak Ngadmin menyampaikan bahwa berikutnya adalah pertanyaan untuk pelajaran matematika. Maka kami harus cepat bergerak mencari kelompok matematika kami. Bila setelah hitungan ketiga ada yang belum masuk kelompoknya, maka ia harus masuk area eliminasi sementara, dan setelah berganti kelompok, anak yang tereliminasi nasi kembali bergabung. 

Game ini sangat menyenangkan. Dalam sebuah game pelajaran Bahasa Indonesia misalnya, salah satu kegiatannya adalah menulis sebuah surat. Setiap anak dalam satu kelompok diminta membuat surat estafet. Artinya, tiap anak menuliskan satu kalimat yang kemudian dilanjutkan oleh teman dibelakangnya. Hasilnya sangat bervariasi. Kelompok yang 

satu isi suratnya tidak saling berkaitan, sementara surat yang lain berisi tulisan yang tidak dapat dimengerti karena tulisan yang tidak dapat dibaca, dan sebagainya. Tentu saja kelompok yang mendapat score tertinggi adalah kelompok yang isi suratnya saling berkaitan dan rapih. Tapi inti dari permainan ini bukanlah pada isi surat yang dihasilkan oleh kelompok, melainkan kekompakkan dan kesediaan untuk saling mendukung dan memaafkan. 
Pernah aku memberanikan diri bertanya kepada Pak Ngadmin,” Mengapa game semacam ini diterapkan Pak, bukankah kelas jadi gaduh..?” Seperti biasa, Pak Ngadmin tersenyum dan dengan tenang balik bertanya,” Kamu suka…? Nah…mana yang kamu suka, kelas yang hidup, bersemangat tapi gaduh atau kelas yang mati, membosankan tapi sepi..?” Tidak diragukan lagi, aku pasti memilih yang pertama! 
Ternyata ide Pak Ngadmin tidak sia-sia. Temanku, Icang, yang semula penyendiri dan pemurung kini lebih ceria dan punya banyak teman. Dan aku, yang semula sangat takut untuk bertanya termasuk beberapa temanku, sekarang tidak lagi ragu atau takut untuk menanyakan pelajaran yang belum kami mengerti. Memang Pak Ngadmin sangat senang bila ada muridnya yang bertanya. Juga untuk pelajaran matematika, beliau tidak pernah keberatan untuk menjelaskan berulang-ulang bila ada muridnya yang belum mengerti, sekalipun itu hanya satu orang. Biasanya beliau akan menjelaskan lagi secara perorangan saat jam istirahat, seperti yang selalu dilakukannya pada Adam, temanku itu. 

Guru Etika Plus Moral 

Sekalipun dikenal sebagai guru yang dekat dengan murid-muridnya, Pak Ngadmin sangat perhatian terhadap sikap atau perilaku murid-muridnya yang tidak sesuai dengan tata cara bersopan santun. Pak Ngadmin selalu menegur bila ada muridnya yang berdoa sambil tangannya mempermainkan alat tulis atau apapun. 

“Apapun agama kalian, berdoalah dengan sikap yang sopan dan baik, jangan sambil mengganggu teman, bermain pensil, atau tindakan lain yang tidak perlu. Mengapa? Karena saat kalian berdoa, artinya kalian sedang berkomunikasi dengan Tuhan Sang Pencipta.” Kulirik Malik yang tertunduk ketika Pak Ngadmin menatap ke arahnya. Sebelum kami mulai belajar, kami bertadarus terlebih dahulu. Pak Ngadmin yang semula berdiri mengawasi di depan kelas, berjalan mendekati Malik dan meletakkan tangannya pada punggung Malik. Malik yang sejak tadi mengganggu Susi dengan pensilnyapun terpaksa menghentikan tingkahnya lalu ikut bertadarus. 
“Kalau kalian berbicara dengan orang lain yang lebih tua saja kalian harus selalu menjaga sopan santun, apalagi saat kalian berbicara dengan Allah. Mengerti?” tanya Pak Ngadmin lagi. Kembali pandangannya tertuju kepada Malik. Malik mengangguk. 
“Anak-anak, apa perlunya bersikap sopan ?” 
“Biar nggak dimarahi orang lain,” sahut seorang temanku. Pak Ngadmin tertawa. 
“Ya, biar tidak dimarahi orang lain. Ada lagi yang berpendapat lain?” Setelah menunggu sejenak, Pak Ngadmin melanjutkan, 
“Anak-anakku, kalau kalian bersikap tidak sopan, siapa yang harus menanggung malu?” 
“Diri sendiri,” ujarku mantap. 
“Ya, pasti dirimu sendiri, kalau kamu merasa…, tapi ada orang lain yang harus menanggung malu karena tindakan kalian. Siapa….?” Tak ada jawaban. 
” Orang tuamu! Kalau kalian melakukan tindakan yang tidak sopan, maka orang akan bertanya, siapa sih orang tuanya…kok anaknya tidak sopan? Nah itu artinya secara tidak langsung kalian mempermalukan orang tua kalian. Paham?” Semua mengangguk. 
“Jadi anak-anak, sekalipun teknologi semakin maju, sopan santun tetap harus dijaga, jangan diabaikan. Berbicaralah dengan tutur yang sopan dan kata-kata yang benar. Jaga sikapmu agar tetap rendah hati. Misalnya, kamu berniat membantu seseorang. Tapi orang yang akan kamu bantu justru marah dan menolak uluran tanganmu, mengapa? Mungkin kita berbicara dengan kata-kata yang merendahkan orang itu, atau kita menunjukkan sikap yang sombong saat menawarkan bantuan, sehingga orang itu menjadi tersinggung dan menolak tawaran bantuan kita, sekalipun kita ingin menolongnya dengan tulus.” 

Hampir setiap hari, Pak Ngadmin selalu menyelipkan tata cara bersopan santun, mulai dari cara kita makan yang baik, berbicara dengan yang lebih tua, cara bertamu, dan sebagainya. Hal lain, setiap kami selesai berdoa usai pelajaran, sebelum pulang beliau selalu mengulang pesan yang sama: jangan berani melawan orang tua, jangan sakiti orang lain kalau kamu tidak mau disakiti tetapi perlakukan orang lain dengan baik sebagaimana kamu ingin diperlakukan, jangan bilang tidak bisa sebelum kamu berusaha dengan sungguh-sungguh. 
Pada awalnya, aku tak mengerti pesan Pak Ngadmin yang selalu mengatakan “jangan sakiti orang lain kalau kamu tidak mau disakiti, tetapi perlakukanlah orang lain dengan baik sebagaimana kamu ingin diperlakukan”, sampai suatu saat setelah usai jam istirahat pertama, kulihat Asni, temanku menangis di bangkunya. Tubuhnya yang gemuk tampak berguncang mengikuti isakan tangisnya. 
“Ada apa, As..?” tanya Pak Ngadmin tenang seraya memasuki ruang kelas. Langkahnya berhenti di bangku tempat duduk Asni. Anak-anak perempuan saling berebut untuk mengadukan keadaan yang telah terjadi. Pak Ngadmin menggeleng dan memberi tanda agar semua duduk. Tanpa diperintah dua kali, semua langsung menuju kursinya masing-masing dan duduk tenang. Tetapi beberapa anak perempuan terlihat tidak sabar, kembali beradu suara agar didengar. 
“Bisakah kalian diam…?!” hardik Pak Ngadmin lebih keras. Sekarang tak ada satupun yang berani bersuara, kecuali Asni. Isakan tangisnya belum berhenti. 
“Bapak ingin satu orang saja yang menceritakan apa yang terjadi… Rina?” pandangan mata guruku tertuju pada temanku yang duduk di sebelah Asni. Rina tampak terkejut. Dengan suara pelan Rina mengatakan bahwa ia sedang berada di luar kelas saat itu. Tiba-tiba, Ferdi mengangkat tangannya. 
” Maaf, Pak. Boleh saya jelaskan?” Pak Ngadmin mengangguk. Dengan lancar Ferdi menceritakan, bahwa tadi Malik mengejek Asni dengan sebutan Karung, karena tubuhnya yang gemuk. 
“Benar itu, Malik…?” tanya Pak Ngadmin yang menatap tajam kearah Malik. Malik tampak gugup dan mengangguk cemas. 
“Mengapa?” 
“Karena tadi Asni memukul punggung saya, Pak. Keras sekali,” sahut Malik parau. 
“Mengapa kamu memukul Malik, As….?” tanya Pak Ngadmin. 
“Tadi dia menginjak kaki saya, Pak…,” sahut Asni sedikit terbata. Isaknya kini mulai reda. 
“Saya tidak sengaja, Pak!” Malik berusaha membela diri. Pak Ngadmin mengangguk-anggukkan kepalanya. Nampaknya beliau mulai mengerti duduk permasalahannya. 
“Baik, anak-anakku. Setiap hari menjelang pulang, Bapak selalu berpesan Jangan sakiti orang lain kalau kamu tidak mau disakiti, perlakukanlah orang lain dengan baik sebagaimana kamu ingin diperlakukan. Masih ingat?” Semua mengangguk. 
“Apa artinya?” Sorot mata Pak Ngadmin berkeliling memandang kami satu persatu. 
“Malik, maukah kamu dipukul temanmu?” Malik menggeleng. 
“Manakah yang kamu pilih Asni, dipukul atau diejek?” Tanya Pak Ngadmin lagi. 
“Tidak mau dua-duanya, Pak.” 
“Kalau begitu, apa yang kamu mau? Dipukul atau disayang?” Beberapa temanku menahan senyum mendengar ucapan Pak Ngadmin. 
“Disayang…” 
“Nah, kalau kalian tidak ingin dipukul ya jangan memukul, kalau kalian tidak ingin diejek ya jangan mengejek, kalau kalian tidak suka disakiti…ya jangan menyakiti. Jadi kalau kalian ingin disayang, ya sayangilah orang lain, kalau ingin orang lain berbuat baik pada kalian ya kalianpun harus berbuat baik dulu pada orang lain. Itu arti pesan yang selalu Bapak sampaikan…! Mengerti?” Semua mengangguk tanda mengerti. 
“Jadi kepada siapa kalian harus berbuat baik?” 
“Teman,” celetuk Icang. Pak Ngadmin tersenyum mendengar jawaban spontan itu. 
“Ya, pada semua teman kita harus berbuat baik. Tapi bukan hanya teman saja, melainkan pada siapa saja, misalnya orang tua, adik, kakak, pembantu, supir,…ya pokoknya dengan siapa saja. Mengerti…?” Temanku saling berpandangan. Masak sih pembantu? Bisik temanku pelan. Aku hanya mengangkat bahu. 
“Komar,” panggil Pak Ngadmin tiba-tiba. Aku mendekat, dan Pak Ngadmin membisikkan perintah agar aku mengambil kain pel yang dibasahi, di dapur sekolah. 
“Coba Komar, kamu berdiri di dekat pintu. Lalu beberapa anak Bapak minta keluar dulu dari kelas….Nah, sekarang, Komar, coba kamu pel lantai di dekat pintu.” Aku melakukan perintah Pak Ngadmin dengan tanda tanya penuh di benakku. Saat aku sedang mengepel, Pak Ngadmin memanggil dua orang temanku untuk masuk. Gerakanku terhenti sementara temanku lewat. Lantai basah yang diinjak sepatu temanku kini kotor lagi. Sekali lagi aku bersihkan lantai itu. Kembali Pak Ngadmin memanggil seorang temanku. Aku berhenti. Lantai itu kotor lagi. Kubersihkan lagi….terus begitu berulang-ulang. Akhirnya emosiku memuncak. Dengan rasa marah dan kesal, aku melempar kain pel itu ke lantai, lalu berjongkok menutupi wajahku. Pak Ngadmin berjalan mendekat ke arahku. Diraihnya bahuku lalu dituntunnya aku ke tempat dudukku. 
“Bagaimana perasaanmu, Komar?” suaranya tenang. Dadaku terasa sesak. Kutatap guruku dengan kesal. 
“Marah! Terhina! Saya kan capek, Pak…,” keluhku penuh emosi. Pak Ngadmin tersenyum mengangguk. 
“Anak-anak, pernahkah kalian lakukan perbuatan tadi?” Aku tersentak. Pertanyaan Pak Ngadmin mengubah rasa marah dan kesalku tadi menjadi malu. Kulihat beberapa temanku menunduk. 
“Anak-anak, perlakukanlah orang lain dengan baik sebagaimana kamu ingin diperlakukan.” Pesan itu terasa meresap begitu dalam di hatiku. Tidak lagi hanya lewat di telingaku, karena kini aku mengerti makna yang begitu dalam dari pesan itu. 

Guru Kaset Plus Solusi 

Aku tahu ini terdengar sedikit aneh, tapi begitulah adanya. Seperti kemarin ketika kami sedang tenang belajar di kelas, tiba-tiba Pak Ngadmin memanggil nama temanku. 
“Alvin, mana kacamatamu. Mengapa kamu tidak memakai kacamatamu..?” tanya Pak Ngadmin tenang. 
” Ada, Pak. Tapi tadi rusak, karena bautnya lepas.” Alvin merogoh kacamatanya dari tas. 
“Boleh Bapak lihat? Pasti sulit buatmu untuk membaca tanpa kacamata….,” Alvin mengangguk. Dia berjalan ke arah Pak Ngadmin lalu menyerahkan kacamata miliknya. 
“Kenapa kamu diam saja?” Sejenak Pak Ngadmin mengamati kacamata itu lalu menyuruh Alvin untuk kembali duduk. Tak lama kemudian Pak Ngadmin beranjak keluar dengan membawa kacamata Alvin. Setelah beberapa saat, guruku datang mendekati Alvin dan menyerahkan kacamata yang sudah diperbaikinya. 
“Coba kamu pakai,” suara Pak Ngadmin nyaris tak terdengar. Alvin segera memakai kacamatanya. 
“Bagaimana…enak tidak dipakainya?” tanya Pak Ngadmin lembut. Alvin menoleh ke kanan dan kiri beberapa kali. 
“Enak Pak. Terima kasih, Pak,” ujar Alvin senang. Pak Ngadmin mengangguk dan menepuk punggungnya. Sejenak semua mata tertuju pada Alvin, lalu kembali menyelesaikan soal-soal latihan yang sedang dikerjakan. 
Untuk kelasku yang walinya Pak Ngadmin, tindakan yang dilakukan Pak Ngadmin tadi bukanlah sesuatu yang baru. Banyak hal selain mengajar beliau lakukan, mulai dari memperbaiki retsluiting tas sekolah, mengakali sepatu temanku yang rusak agar bisa tetap dipakai selama belajar satu hari itu, termasuk mencabut gigi muridnya yang sudah sangat goyang tapi temanku begitu ketakutan untuk ke dokter. 
Entah bagaimana caranya, Pak Ngadmin juga selalu bisa memberikan rasa nyaman pada muridnya yang sedang galau atau ketakutan. Pak Ngadmin juga dapat membaca keadaan muridnya yang mengalami stress karena suatu hal. Karenanya, menjadi kebiasaanku dan teman-temanku untuk selalu bercerita kepadanya tentang berbagai hal yang kami alami. Kini aku tidak lagi heran bila kulihat kakak-kakak kelas yang ingin bertemu Pak Ngadmin untuk sekedar bercerita. 
Pak Ngadmin adalah guru yang sangat menyukai musik. Musik apapun beliau suka terutama musik jazz. Bahkan saat di kelaspun, kegemarannya akan musik tidak ditinggalkan. Bila kami ulangan, mengerjakan soal-soal latihan atau mengarang yang menjadi tugas pelajaran Bahasa Indonesia, Pak Ngadmin selalu membawa kaset dan memperdengarkan alunan musik-musik instrumental yang lembut di dalam kelas. 
Tapi untuk mendidik temanku Ferdi, Pak Ngadmin punya cara lain lagi. Karakter Ferdi hampir seperti Icang. Temanku yang satu ini jauh lebih sulit dalam bersosialisasi. Temannya sehari-hari hanyalah buku dan ilmu pengetahuan. Sulit baginya untuk berinteraksi dengan siapapun, dia begitu mudah marah. Tak pernah ada senyum di bibirnya. Untuk teman-temanku, Ferdi adalah anak yang aneh, karena dia lebih suka mengamati semut yang berjalan beriringan, pipa-pipa air yang saling bersambungan, kabel-kabel listrik yang rumit, atau antenna-antena televisi. Hampir semua orang menganggapnya aneh. Hanya Pak Ngadmin yang tidak. Pak Ngadmin sering mengajaknya berbicara berdua. Hanya pada saat seperti inilah aku bisa melihat Ferdi sesekali tersenyum. 
“Fer, kamu bisa main catur?” tanya Pak Ngadmin tiba-tiba di tengah pelajaran kami, suatu hari. 
“Nggak, Pak. Nggak penting,” sahut Ferdi lugas. Hanya sekilas ia menatap Pak Ngadmin untuk kemudian terpaku lagi pada buku dihadapannya. 
“O ya..? Kata siapa nggak penting. Bagaimana kalau kamu buktikan kata-katamu….. berani?” tantang Pak Ngadmin dengan wajah yang ramah. Sejenak Ferdi menatap Pak Ngadmin, lalu mengangguk dan meneruskan lagi membaca buku di tangannya. 
Mendadak murid yang lain saling berebut agar diijinkan membawa juga papan catur dan ikut bermain. Kelas jadi begitu gaduh. Akhirnya Pak Ngadmin mengijinkan dengan satu syarat hanya bermain catur saat istirahat atau setelah tugas yang diberikan selesai dikerjakan. 
Keesokkan harinya, banyak teman-temanku yang membawa papan catur. Kebanyakan anak laki-laki, begitu juga Ferdi. Tapi Ferdi tak mengijinkan siapapun menyentuh papan catur miliknya. 
Ferdi adalah anak yang sangat pandai. Tugas apapun yang diberikan selalu dikerjakanya dalam waktu yang sangat cepat dengan hasil yang sangat memuaskan. Seperti hari ini, soal-soal matematika yang diberikan Pak Ngadmin cukup sulit dengan jumlah dua puluh soal. Tapi bagi Ferdi, soal-soal itu dapat diselesaikannya hanya dalam waktu kurang dari setengah jam 
Pak Ngadmin memanggil Ferdi untuk membawa papan caturnya ke tempat beliau duduk. 
“Boleh Bapak pegang papan catur milikmu?” Pak Ngadmin bertanya dengan hati-hati. Sementara papan catur itu masih dalam pelukan temanku yang aneh. Ragu-ragu Ferdi mengangguk. 
“Tapi hati-hati, ya Pak. Nanti rusak…,” ujarnya lirih. Pak Ngadmin tersenyum lalu mengangguk. 
“Kamu tahu nama-nama dari biji catur ini?” 
“Punya nama…?” Ferdi balik bertanya dengan wajah bingung. 
“Yap. Mau kenalan? Nah, perkenalkan…ini pion, tempatnya di sini.” Pak Ngadmin mengambil sebuah pion lalu meletakkan di tempat semestinya. 
“Kamu lihat, biji catur ini ada dua warna. Ada kubu warna putih dan kubu warna hitam. Kedua kubu ini akan selalu berperang untuk menjadi pemenang. Jumlah anggota tiap kubu sama, masing-masing namanya juga sama, yang membedakan adalah warnanya. Biasanya yang mendapat kesempatan untuk bergerak lebih dulu adalah putih. Nah, sekarang kita lihat tiap biji catur ini ya. Tadi kamu sudah berkenalan dengan satu pion putih. Masih ada pion-pion……,” Pak Ngadmin menjelaskan secara detil mulai dari biji catur, jumlahnya, tempat masing-masing biji catur, dan langkah setiap biji catur itu. Untunglah aku duduk di barisan terdepan dekat meja guruku, sehingga aku bisa mendengarkan juga penjelasan Pak Ngadmin. 
Ferdi tampak begitu sungguh-sungguh memperhatikan setiap penjelasan yang diberikan Pak Ngadmin. Ia terlihat begitu antusias. Tak sulit baginya untuk mengingat setiap penjelasan yang diberikan Pak Ngadmin. Aku memandang temanku yang jenius ini dengan takjub. Tanpa menunggu lama, Ferdi sudah mulai terlibat permainan catur bersama Pak Ngadmin. Melihat hal itu, murid yang lain makin bersemangat untuk menyelesaikan soal-soal matematika tadi, begitu juga aku. Alhasil, hanya dalam waktu satu jam pelajaran, banyak yang sudah selesai dengan tugasnya. Aku melihat sekeliling, masih ada bebeapa temanku terutama yang tidak suka permainan catur, masih berkutat dengan soal-soal tadi, tetapi yang lain tampak mulai menggelar caturnya.Seru sekali! Sejak itu, kelas kami mempunyai ‘pelajaran tambahan’ di waktu luang, yaitu CATUR! 
Aku masih belum mengerti, mengapa Pak Ngadmin memberi ide agar Ferdi belajar catur. Sampai keesokkan harinya, Ferdi yang begitu antusias bermain catur mengeluh dan mengadu kepada Pak Ngadmin bahwa tak satupun dari kami teman sekelasnya yang bersedia 
bermain catur dengannya. Wajahnya tampak sangat gusar. Siapapun yang mendekat, hendak ia pukul dengan kayu di tangannya. Jam istirahat jadi saat yang sangat menegangkan. Suasana mulai reda ketika Pak Ngadmin datang. Kami semua bersembunyi di balik punggung beliau. 
“Perlukah kayu itu, nak…?” tanya Pak Ngadmin lembut dan tegas. Sesaat Ferdi memandang kayu di tangannya, kemudian ia buang ke lantai dengan lesu. Pak Ngadmin mengajak temanku yang tertunduk sedih itu duduk di salah satu bangku sementara beliau menarik sebuah bangku lain dan duduk di depannya. Dengan sabar beliau mendengarkan semua curahan kekesalan Ferdi. 
“Kamu tahu mengapa Bapak suruh kamu belajar catur?” Pak Ngadmin bertanya sambil menatap Ferdi dalam-dalam. Temanku itu menggeleng. Kami semua menatap beliau penuh rasa ingin tahu. 
“Untuk bermain catur, kamu harus punya sparing. Memang kamu bisa bermain sendiri dan memegang dua kubu itu, tapi itu hanya untuk latihan. Permainan catur yang sebenarnya adalah bila kamu punya lawan. Semakin pandai lawanmu, maka permainan caturmupun semakin terasah. Artinya, kamu perlu orang lain. Masalahnya sekarang, tidak ada temanmu yang bersedia menjadi lawanmu. Benar?” Ferdi mengangguk mengiyakan. 
“Mengapa?” 
“Seharusnya Bapak tanya mereka, bukan saya!” sahut Ferdi marah seraya menuding kami semua. 
“Sudahkah kamu bertanya dulu pada dirimu sendiri?” Ferdi terperangah mendengar ucapan Pak Ngadmin, dan segera membuang pandangannya ke papan tulis. Napasnya mulai sedikit tersengal, tanda bahwa emosinya meninggi. 
“Ferdi….Bapak pasti akan bertanya juga pada temanmu nanti, dan supaya adil Bapak juga harus bertanya padamu. Bagaimana?” ujar Pak Ngadmin dengan sabar. Beberapa saat Ferdi terdiam. Berangsur-angsur napasnya mulai teratur. 
“Mereka semua selalu menertawakan saya kalau saya bercerita tentang apa saja. Sepertinya saya ini orang yang aneh. Saya jadi malas berteman dengan mereka. Lebih baik say a membaca buku.” Nada suaranya terdengar sedih dan Pak Ngadmin menatapnya dengan iba. Pak Ngadmin memeluk bahu Ferdi yang tertunduk lesu. 
“Anak-anak, tidak ada orang yang suka ditertawakan, diasingkan, dan dianggap aneh. Kalau kalian hendak berbuat seperti itu pada orang lain, cobalah bertanya dulu pada dirimu sendiri, bagaimana jika kamu yang diperlakukan begitu. Kalau kalian tidak mau ditertawakan, 
diasingkan atau dianggap aneh, ya jangan menempatkan orang lain pada posisi itu.” Ujar Pak Ngadmin menjelaskan. Semua terdiam. Kemudian pandangan guruku itu beralih pada Ferdi yang bediri di sampingnya. 
“Kamu tahu mengapa biji catur itu terdiri dari pion, raja, mentri, kuda, gajah, dan benteng? Kalau kamu bermain catur dengan pion saja, atau kuda saja…atau raja saja sendiri..menurutmu, bisakah kamu menang?” Ferdi menggeleng. 
“Nah, catur ini mengingatkan bahwa kita tidak bisa hidup sendiri. Kita juga perlu orang lain untuk bisa berkembang menjadi lebih baik. Mengapa? Karena dari pandangan, kritik atau saran orang lain terhadap kita, juga dari contoh-contoh kehidupan sehari-hari yang kita lihat, kita akan mengerti dan belajar untuk lebih baik. Kecerdasanmu tidak ada artinya kalau kamu mengisolir diri dan tidak peduli akan sekitarmu. Terimalah setiap kritik dan saran dengan lapang dada bukan dengan prasangka. Cobalah…dan kamu akan merasakan perbedaannya.” Pak Ngadmin mengakhiri nasihatnya sambil tersenyum. Ferdi menatap Pak Ngadmin penuh rasa haru. Ia mengangguk sambil berucap lirih,” terima kasih, Pak.” 
Atas nasihat guruku tadi, sejak saat itu tidak ada lagi diantara kami yang keberatan bermain catur dengan Ferdi. Dan berangsur-angsur, kulihat kini menjadi pribadi yang sangat berbeda. Dia lebih terbuka, senang tertawa dan bercanda, serta tidak lagi mudah tersinggung. 

Guru Motivator Plus Optimis 

Suatu hari, sebagaimana biasa Pak Ngadmin memasang alat infokus pada laptop yang dibawanya. Wah, ada film lagi, nih! pikirku. Tapi hari itu tidak ada pelajaran IPA atau IPS. Yang ada hari ini adalah pelajaran matematika dan bahasa Indonesia serta pelajaran dari guru bidang studi. 

Semua murid duduk tenang sambil bertanya-tanya, kejutan apa lagi yang akan diberikan guru kami. Selesai memasang alat-alat itu, sejenak Pak Ngadmin menatap kami satu persatu. Hal itu biasa beliau lakukan bila hendak mengawali pelajaran. Menurut beliau, ia ingin memastikan bahwa murid-muridnya siap mengikuti pelajaran dengan baik, tidak ada yang lesu atau mengantuk. 

“Nah, anak-anak, Bapak tahu sekarang ini seharusnya kita belajar matematika tiga jam. Tapi Bapak lihat kalian sudah cukup menguasai materinya, jadi dengan persetujuan kalian Bapak mau menggunakan waktu dua jam untuk film yang sudah Bapak siapkan ini. Untuk apa? Nanti kalian akan tahu maksud Bapak setelah kalian menyaksikan film ini. Bagaimana? tanya Pak Ngadmin seraya menatap keliling. 

“Setuju Pak…!” semua menjawab serempak. 

“Tiga jam juga nggak apa-apa, Pak,” celetuk Udin. Pak Ngadmin tersenyum menanggapi celoteh Udin. 

“Baik. Bapak akan putar film ini, coba kalian simak baik-baik. Nanti Bapak akan menanyakan tanggapan kalian setelah menyaksikannya.” Penuh rasa ingin tahu, semua menyaksikan film itu dengan tenang. 

Film itu berisi tentang seorang anak laki-laki di Amerika, yang mengalami Cerebral Parsy atau kelainan pada otak, sehingga ia tidak dapat bertumbuh secara normal. Ia tidak dapat berdiri sehingga harus selalu duduk di kursi roda. Begitupun kedua tangannya tak dapat ia gunakan sebagaimana mestinya, sehingga untuk membersihkan air liurnya yang selalu menetespun cukup sulit baginya. Untuk berkomunikasi, ia menggunakan computer yang dirancang sedemikian rupa sehingga dapat digunakannya dengan mudah. 

Film kedua yang disajikan Pak Ngadmin, adalah film seorang gadis bernama Hee Ah Lee, gadis dengan tinggi tidak lebih dari 103 cm, tidak memiliki jari dan juga tidak memiliki kaki. Jari yang ia miliki di kanan dan kiri hanyalah dua buah. Tapi gadis ini sangat mahir bermain piano dengan jenis-jenis lagu yang cukup sulit karena memerlukan ketrampilan jari. Durasi film ini kurang lebih sama dengan film pertama, sekitar sepuluh menit. 

Selesai memutar film, kembali Pak Ngadmin mengamati kami satu persatu. 

“Bagaimana tanggapan kalian?” Hampir semua menjawab sama yaitu kasihan. Ada juga yang menjawab tidak tega. 

“Ya…, ada punya tanggapan lain?” tanya Pak Ngadmin. Semua diam. 

“Mengapa harus kasihan?” Semua terperangah dan merasa heran atas ucapan beliau. 

“Apakah dalam film tadi kalian melihat wajah yang minta dikasihani? Tidak, bukan…? Bagaimana wajah dua tokoh dalam film tadi?” Semua masih diam, tidak mengerti. Pak Ngadmin tersenyum. 

“Anak-anak, wajah kedua tokoh dalam film tadi memperlihatkan wajah yang begitu penuh semangat, penuh rasa percaya diri dan tidak pernah murung juga tidak mengeluh. Betul….?” Semua mengangguk. Ya, yang diceritakan dalam film tadi bukanlah tentang kesedihan. 

“Nah, mengapa kita tidak perlu kasihan?” Tak satupun menjawab. 

“Baik. Untuk menjelaskan mengapa kita tidak perlu mengasihani orang dengan keadaan fisik seperti tokoh tadi, Bapak akan ceritakan lagi tentang seorang pemuda Jepang yang hebat, bernama Hirotada Ototake.” Pak Ngadmin selalu berhasil membuat semua murid terpikat bila bercerita. Sama seperti saat ini, ketika beliau menceritakan kisah kehidupan pemuda Jepang tadi. Tak ada satupun suara nakal yang terlontar atau tingkah-tingkah kecil yang mengganggu. 

Inti ceritanya, Oto, demikian nama panggilan pemuda Jepang itu, adalah seorang pria yang terlahir tanpa kedua lengan dan dua kaki. Tangan dan kaki yang dimilikinya, tak lebih dari segumpal daging seukuran kentang besar. Tapi luar biasanya, Oto dapat mengerjakan kegiatan apapun sebagaimana yang biasa dilakukan orang-orang yang tidak mengalami cacat fisik. Oto dapat bermain basket, memanjat tali, berenang, lomba lari bahkan berkelahi. Oto bersekolah di sekolah biasa, bukan sekolah khusus anak cacat, tapi tidak ada satupun kegiatan di sekolah itu yang ‘dikecualikan’ bagi Oto. Ia tetap mengikuti seluruh kegiatan belajar juga ekstrakurikuler yang ada. Seorang gurunya, tetap mendidik Oto dengan keras dan disiplin sama seperti terhadap murid yang lain. Tapi justru sikap inilah yang kemudian sangat membantu Oto menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri dan selalu optimis. 

“Anak-anakku…masih ingat seorang ahli matematika bernama Ni Ing Han? Ada kesamaan yang bisa kita lihat dengan ketiga tokoh tadi. Apa…ada yang bisa ..?” tanya Pak Ngadmin. 

“Cacat fisik,” sahutku ragu. Pak Ngadmin tersenyum. 

“Ya, mereka memang mengalami cacat fisik. Tapi bukan itu yang Bapak maksud. Ada yang bisa…?” 

“Kesamaan yang bisa kita lihat dari keempat tokoh tadi, pertama mereka mendapat kasih sayang dan perhatian yang tulus dari orang yang terdekat. Ini penting. Itu sebabnya Bapak selalu berpesan perlakukan orang lain dengan baik sebagaimana kamu ingin diperlakukan. Kedua, mereka tidak diperlakukan secara istimewa dan tidak dimanja sekalipun mereka tidak sempurna fisiknya. Bukannya tidak ada rasa kasihan. Rasa kasihan pasti ada, tapi cukup disimpan dalam hati. Mengapa? Karena rasa kasihan itu justru akan menghambat keempat tokoh tadi untuk maju. Bayangkan, bagaimana kalau selalu dikasihani? Rasa kasihan akan membuat mereka selalu mendapat perkecualian, boleh tidak mengerjakan tugas, selalu mendapat tugas yang ringan, harus selalu dilayani, bahkan mungkin hanya boleh bermain di dalam rumah, dan masih banyak contoh rasa kasihan yang lain. Akibatnya apa? Mereka akan menjadi pribadi yang selalu bergantung pada orang lain, egois, malas, tidak tangguh, kurang percaya diri dan …selalu bermasalah dalam bersosialisasi dengan orang lain…” Aku termangu merenungkan setiap kata yang disampaikan guruku. 

“Itu sebabnya Bapak berpendapat, kita tidak perlu menunjukkan rasa kasihan. Simpan rasa kasihan itu dalam hati, dan tunjukkan dukungan serta perhatian yang tulus agar orang-orang yang tidak sempurna fisiknya itu tidak merasa lemah tetapi merasa bahwa dia sangat berarti bagi sekelilingnya dan dapat memberi yang terbaik bagi siapapun. Dukungan dan sikap yang baik akan menumbuhkan rasa percaya diri serta rasa optimis yang tinggi pada orang yang menerimanya.” 

Aku terpekur. Kata-kata Pak Ngadmin begitu sederhana tapi sangat dalam artinya. Aku berharap Pak Ngadmin akan memutar lagi film-film lain yang sejenis. Sekarang aku tidak lagi merasa malas berangkat sekolah karena setiap hari selalu ada hal baru yang menyenangkan terjadi, atau kalaupun tak ada peristiwa baru, cerita-cerita berisi nasehat selalu disampaikan Pak Ngadmin dengan menarik. Itulah Pak Ngadmin, guru yang selalu membuatku ingin belajar dan melakukan yang terbaik. 

Sekarang, setiap kali aku mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugasku, aku tidak lagi menangis atau menyerah. Empat tokoh yang diceritakan Pak Ngadmin menyadarkanku, kalau mereka yang mengalami kekurangsempurnaan fisik saja bisa dan berani menghadapi tantangan, masakan aku yang diberi anugerah fisik sempurna ini mudah menyerah dan takut menghadapi tantangan. Di samping itu, pesan Pak Ngadmin agar tidak berkata tidak bisa belum berusaha, membuatku terpacu untuk berusaha dan terus berusaha tanpa mudah menyerah.
Previous
Next Post »